MANFAAT ADANYA LUKISAN MURAL DI DINDING SEKOLAH

Diposkan pada : 02-01-2015 09:16:41
Manfaat adanya lukisan mural di dinding sekolah _Screenshot_2014-05-10-14-49-43.png

Lukisan mural di dinding sekolah memang menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari dunia anak-anak. Warna-warni lukisan mural dinding sekolah yang memang sesuai dengan dunia anak-anak bisa meningkatkan antusiasme anak dalam beraktivitas di sekolahnya. Sebetulnya, apa lagi manfaat yang dapat diperoleh dari adanya lukisan mural ini?

 

Manfaat adanya lukisan mural di dinding sekolah antara lain adalah :

  • Membuat suasana sekolah menjadi lebih menyenangkan, sehingga anak-anak menjadi lebih bersemangat untuk berangkat ke sekolah
  • Dapat dimanfaatkan sebagai sarana edukasi oleh para guru untuk anak-anak muridnya
  • Meningkatkan daya imajinasi dan kreativitas anak-anak, dan lain-lain

 

Ciri-ciri lukisan mural dinding sekolah yang berkualitas yang cocok dan mampu memberi efek-efek positif untuk anak-anak antara lain adalah :

  • Menggunakan warna-warna yang cerah atau warna-warna pastel yang ceria
  • Menggunakan karakter-karakter yang lucu dan menyenangkan
  • Terdiri dari bentuk-bentuk yang sederhana dan tidak terlalu memiliki banyak detail
  • Interaktif, lukisan mural bisa menjadi bagian yang menyatu dengan ruangan dan kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak
  • Berisi pesan-pesan moral seperti persahabatan, kerja keras, sopan santun, cita-cita, dan lain sebagainya.

 

Sebetulnya lukisan mural ini tidak hanya dapat diaplikasikan pada dinding sekolah saja, tapi juga dapat diwujudkan di dalam kamar atau ruang bermain anak-anak Anda. Terbukti bahwa efeknya sangat positif bagi perkembangan anak. Karena perlu kita ketahui bahwa lukisan kerap menjadi media terapi dalam sesi konseling untuk anak-anak, untuk mengetahui minat dan bakatnya, dan untuk menyalurkan ekspresi dan perasaan-perasaannya yang selama ini tidak pernah mereka ungkapkan secara langsung, baik itu kepada kedua orang tuanya atau pun kepada guru-guru di sekolah.

 

Dunia anak-anak yang penuh dengan warna-warni keceriaan di masa perkembangannya akan semakin optimal dengan dukungan dari lingkungan di sekitarnya. Menciptakan sebuah lingkungan sedemikian rupa sehingga dapat merangsang perkembangan inteligensi dan mental anak-anak wajib dilakukan oleh masyarakat, khususnya oleh orang tua dan tenaga pendidik di sekolah.

 

Lukisan mural di dinding sekolah dan di tempat-tempat yang banyak dikunjungi oleh anak-anak merupakan salah satu solusi untuk mendukung perkembangan anak-anak ke arah yang positif. Sehingga, saat ia beranjak dewasa pun akan menjadi pribadi yang lebih matang dan mampu memaksimalkan semua potensi yang dimilikinya.

 

Tim Raditya Pelukis Dinding siap membantu Anda mewujudkan sebuah lukisan mural untuk anak-anak Anda secara profesional dan didukung oleh para pelukis yang berjiwa seni tinggi.

-------------------------------------------------------

Info Terkini

Jasa Lukis Dinding

saco-indonesia.com, Warga etnis Tionghoa selama ini juga banyak dikenal sebagai pedagang alias pengusaha. Namun, sejarah juga telah mencatat etnis Tionghoa sangat literer atau menggeluti dunia tulis menulis.

Dalam 'Sejarah Pers Awal dan Kebangkitan Kesadaran Ke-Indonesia-an' (2003), telah disebutkan warga Tionghoa juga merupakan pelanggan surat kabar sejak akhir abad ke XIX. Meski tidak sebanyak orang-orang Indo Eropa, sejumlah peranakan Tionghoa pun juga mulai menjadi pemimpin surat kabar berbahasa Melayu Rendah di Batavia.

Seiring dengan perkembangan pendidikan di kalangan mereka, peranakan Tionghoa juga mulai banyak menerbitkan dan telah memimpin berbagai penerbitan dengan bahasa Melayu Rendah pada awal abad XX. Bahasa Melayu Rendah juga bisa diartikan sebagai bahasa pergaulan (Melayu-Pasar) yang telah banyak digunakan peranakan Tionghoa di Jawa karena tidak lagi menguasai bahasa leluhur mereka.

Karena begitu besar sumbangan dan peranan orang-orang peranakan Tionghoa dalam pengembangan bahasa Melayu Rendah, bahasa ini akhirnya telah disebut sebagai Melayu-Tionghoa. Pada awal abad XX, sejumlah penerbitan pers berbahasa Melayu Tionghoa mulai bermunculan, seperti Sin Po, Keng Po, dan Perniagaan atau Siang Po di Batavia.

Di Surabaya juga ada Suara Poeblik, Pewarta Soerabaya dan Sin Tit Po. Ada juga Warna Warta dan Djawa Tengah (Semarang), Sin Bin (Bandung), Li Po (Sukabumi), Tjin Po dan Pelita Andalas (Medan), Sinar Sumatera dan Radio (Padang), dan Han Po (Palembang).

Surat kabar Sin Po telah memiliki catatan khusus dalam sejarah pergerakan Indonesia. Media itulah yang pertama kali telah menyebarluaskan syair 'Indonesia Raya' beserta partiturnya pada 10 November 1928, atau dua pekan setelah dikumandangkan pertama kali secara instrumentalia oleh WR Supratman pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928.

Di koran itu, WR Supratman juga menulis dengan jelas 'lagu kebangsaan' di bawah judul 'Indonesia'. Benny Setiono dalam 'Tionghoa Dalam Pusaran Politik' (2008) menulis, Sin Po yang berarti Surat Kabar Baru, telah mencetak 5.000 eksemplar teks lagu Indonesia Raya dan telah dihadiahkan kepada WR Supratman, yang bekerja sebagai reporter di mingguan itu sejak 1925. Oleh WR Supratman, kemudian ribuan koran itu dijual.

Sin Po, yang pertama kali terbit sebagai mingguan pada 1 Oktober 1910, juga merupakan surat kabar yang telah mempelopori penggunaan kata 'Indonesia' menggantikan 'Nederlandsch-Indie', 'Hindia-Nerderlandsch', atau 'Hindia Olanda'. Harian ini juga yang menghapus penggunaan kata 'inlander' dari semua penerbitannya karena dirasa sebagai penghinaan oleh rakyat Indonesia.

Kemudian, sebagai balas budi, pers Indonesia juga mengganti sebutan 'Cina' dengan 'Tionghoa' dalam semua penerbitannya. Dalam percakapan sehari-hari, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tjipto Mangoenkoesoemo kemudian juga telah mengganti kata 'Cina' dengan kata 'Tionghoa'.

Koran Sin Po saat itu memang telah memiliki pandangan politik yang pro-nasionalis Tiongkok. Namun karena alasan itu pulalah, yakni berdasar ajaran Dr Sun Yat Sen, Sin Po juga telah mendukung perjuangan rakyat Indonesia untuk dapat memperoleh kemerdekaan. Dalam San Min Chu I, Sun Yat Sen menulis perkembangan kemerdekaan Tiongkok tidak akan sempurna selama bangsa-bangsa di Asia belum merdeka.

Gerakan pro-nasionalis Tiongkok yang didukung Sin Po akhirnya sirna seiring dengan kemerdekaan bangsa Indonesia 17 Agustus 1945, yang juga banyak didukung tokoh-tokoh Tionghoa. Kemerdekaan itu kini sudah menjadi milik bangsa Indonesia, termasuk di dalamnya keturunan Tionghoa.

 

Editor : Dian Sukmawati

Jasa Lukis Dinding